Ad Code

Responsive Advertisement

KISAH ANAK INSPIRATIF 3: DI HADAPAN HAKIM


Bagian KetigaDI HADAPAN HAKIM

‘ALI KUCYA MENASIHATI PEDAGANG ‘HASAN’

         
‘Ali Kucya bersikeras mendesak ‘Hasan’ supaya ia mengakui kesalahannya. Ia mencoba berbagai cara, namun tidak berhasil dan Hasan pun tetap saja berbohong. Melihat demikian, ‘Ali berkata kepadanya, “Aku ingin menempuh cara penyelesaian dengan damai, aku tidak ingin mengambil jalan perkelahian dan pertikaian, aku khawatir padamu dan juga reputasimu. Namun aku akan marah jika engkau tetap melawan dan tidak mau mengakui, itu akan memaksaku untuk menyebarkan berita tentangmu kepada orang-orang. Maka jangan coba-coba berani menyerahkan dirimu sendiri untuk dihukum dan dicela. Ketahuilah, engkau adalah seorang pedagang yang terkenal amanah dan istiqomah, maka jagalah reputasimu karena itu adalah pondasi kebahagiaanmu.”

        “Jika orang-orang telah mengetahui pengkhianatanmu, mereka tidak akan ada yang mau bergaul denganmu lagi, perniagaanmu tidak akan laku lagi. Aku tidak rela engkau mendapat hukuman yang hina itu padamu. Akan tetapi aku dipaksa untuk melakukan hal itu, jadi aku sudah putus asa untuk menundukkanmu, aku akan pergi ke hakim untuk mengembalikan hakku darimu.”

        “Engkau tahu aku adalah sahabatmu, aku sudah percaya kepadamu. Janganlah engkau mengecewakan kepercayaanku ini padamu. Aku memlih untuk mengambil tindakan agar aku bisa mendapatkan hakku, aku akan mengadukan ini kepada hakim hingga aku tidak menjadi penyebab cemoohanmu di hadapan orang-orang.”

PEDAGANG ITU (HASAN) TIDAK MENERIMA NASIHAT


Hasan itu tidak menerima nasihat ini. Ia bahkan membantahnya sebagaimana sebelumnya ia membantah istrinya. Hasan berkata kepada ‘Ali, “Engkau mengatakan bahwa engkau sendiri yang menyimpan bejana itu di gudangku. Lalu dengan dasar apa engkau kembali lagi menghampiriku dan meminta seribu dinar dariku?”

        “Apakah engkau pernah berkata kepadaku engkau sebelum berangkat safar bahwa bejana itu berisi uang seribu dinar? Apa yang engkau inginkan dariku wahai sahabatku? Aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya karena aku tidak membukanya sedikit pun.”

        “Bahkan aku tidak tahu apakah benar isinya adalah buah zaitun atau sesuatu yang lain, karena aku tidak melihat isinya sedikit pun. Sebelum kau berangkat safar aku tidak membukanya, begitu pun ketika engkau telah berangkat safar, bahkan engkau pun tidak membukanya di hadapanku setelah engkau kembali dari perjalananmu. Bagaimana aku bisa mengetahui isinya?”

        “Aku juga tidak tahu apakah engkau jujur atau berbohong? Demi Allah aku sangat kaget dengan ucapanmu itu. Bisa-bisanya kau katakan bejana itu berisi uang seribu dinar!”.

        “Aku telah berkata jujur kepadamu, aku benar-benar tidak membuka bejanamu dan juga tidak tahu apa isinya. Engkau bisa membenarkan ucapanku atau tidak. Sekarang enyahlah dan janganlah kau bahas masalah itu lagi. Engkau telah menyusahkanku dan telah membuat banyak orang berkumpul di kedaiku.”

PERTENGKARAN ‘ALI KUCYA DAN PEDAGANG ‘HASAN’

         
Sebelumnya telah terjadi perselisihan keras antara ‘Ali Kucya dan Hasan di toko Hasan. Setelah itu, tetangga Hasan menghampiri mereka dan menanyakan sebab pertikaian tersebut, mereka bermaksud mendamaikan keduanya.

        Ketika Ali ditanya, ia menceritakan kisahnya. Setelah mereka mendengar kisah dari ‘Ali Kucya, mereka langsung melirik ke arah Hasan dan menanyakannya tentang kejadian yang sebenarnya. Hasan menjawab, “Laki-laki ini jujur ketika berkata ‘Aku menerima titipan bejana untuk disimpan di gudangku.’ Namun selanjutnya ia berbohong dan memalingkan cerita, karena aku tidak membuka bejananya dan aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya.”

        Hasan bersumpah atas nama Allah di depan mereka, ia tidak mengetahui bejana itu berisi zaitun kecuali ‘Ali Kucya sendiri yang memberitahunya. Setelah mendengar sumpahnya, orang-orang mengira hasan tidak berani bersumpah dusta atas nama Allah.

        Mendengar itu, ‘Ali Kucya semakin marah, ia berkata kepada Hasan, “Akan engkau lihat kehinaan yang sebenarnya, ketika aku mengadukannya ke hakim. Keingkaranmu tidak berarti apa pun bagimu. Engkau akan menyesal atas perbuatanmu. Kebenaran akan kembali kepada pemiliknya.”

‘ALI KUCYA DAN PEDAGANG DI DEPAN HAKIM


          ‘Ali Kucya dan Hasan berjalan hingga sampai di pengadilan. Di depan hakim, ‘Ali Kucya berkata, “Pedagang ini (hasan) telah mencuri seribu dinar dariku. Hakim bertanya kepadanya, “Bagaimana ia bisa mencurinya darimu?” Maka ‘Ali Kucya menceritakan seluruh kisahnya. Hakim bertanya lagi, “Apakah engkau mempunyai saksi?” ‘Ali Kucya menjawab, “Tidak, aku tidak memiliki saksi. Karena aku tidak mengira bahwa sahabatku akan berkhianat. Aku telah mempercayainya sebagai seorang yang jujur, namun ia berkhianat pada diriku dan hancurlah keyakinanku selama ini.”

        Hakim langsung memalingkan wajahnya ke arah Hasan, dan bertanya tentang ucapan ‘Ali Kucya yang menuduhnya sebagai pencuri. Hasan membela diri seperti yang ia katakan di depan para tetangganya. Ia berkata, “Tuduhan Laki-laki ini tidak benar. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam bejana itu karena aku tidak membukanya sedikit pun. Tidak ada yang aku tahu tentang isinya kecuali dari yang ia katakan padaku, bahwa isinya adalah buah zaitun, maka aku pun memercayai ucapannya itu.”

        Hasan menegaskan ucapannya, “Aku berkata jujur, aku akan bersumpah atas itu jika engkau menghendaki.” Maka Hakim meminta hasan bersumpah atas nama Allah. Kemudian Hasan bersumpah atas nama Allah di depan hakim bahwa ia tidak membuka bejana dan tidak melihat apa pun di dalamnya.


HAKIM MEMBEBASKAN HASAN


         Tatkala hakim mendengar Hasan bersumpah demikian, ia membebaskannya dari tuduhan ‘Ali Kucya, kemudian memalingkan wajahnya kepada ‘Ali kucya dan berkata kepadanya: “Tidak ada yang bisa engkau perbuat lagi setelah ia bersumpah atas nama Allah, ia telah bebas dari tuduhanmu itu. Karena engkau tidak memiliki keterangan sedikitpun, juga engkau tidak memiliki saksi yang menguatkan ucapanmu”.

        Ketika ‘Ali Kucya mendengar keputusan hakim seperti itu, ia sangat marah, kemudian berkata kepada hakim: “Ia benar-benar telah mencuri hartaku, kenapa ia keluar dengan bebas?, kalau begitu Aku harus mengadukannya langsung kepada khalifah ‘Harun Ar-Rasyid’ untuk mengembalikan hakku dan mengadili laki-laki ini”.

        Hakim sangat bersabar. Ia tidak terbawa marah atas ucapan ‘Ali Kucya. Karena ia tahu bahwa kemarahannya mendorongnya untuk berkata-kata demikian. Hakim pun tidak menghukumnya, akan tetapi mengusirnya dari pengadilan. Ia menganggap telah menunaikan kewajibannya karena tidak menemukan keterangan atas tuduhan itu, dan tidak menerima saksi seorangpun yang menguatkan ucapan ‘Ali Kucya. Hasan keluar dengan gembira karena ia telah terbebas dari tuduhan itu. Ia senang atas curian dinar-dinar ‘Ali Kucya.

‘ALI KUCYA MENGADUKAN PEDAGANG ITU KEPADA KHALIFAH


               Sementara itu, ‘Ali Kucya keluar dari pengadilan dalam keadaan marah. Ia tidak menyerah begitu saja, ia yakin akan mendapatkan haknya. ‘Ali pun menulis surat tentang pengaduannya kepada sang Khalifah, ‘Harun Ar-Rasyid’, sebagaimana dilakukan orang-orang yang terdzalimi jika tidak selesai di pengadilan.

        Ketika hari jum’at tiba, ‘Ali melaksanakan shalat di mesjid di mana khalifah shalat di sana. Setelah selesai shalat, ‘Ali Kucya segera keluar dan berhenti di jalan yang biasa dilalui oleh Khalifah, ia pun menunggu khalifah.

        Ketika sang Khalifah yang berada dalam tunggangannya telah mendekat. ‘Ali Kucya mengangkat tangannya sambil memegang surat tersebut. Lalu ‘Ali didekati oleh ajudannya. Kemudian ia mengambil kertas yang bertuliskan pengaduannya itu. Ajudan khalifah tersebut biasanya akan memberikan surat-surat aduan itu kepada khalifah setelah ia kembali ke istananya.

        ‘Ali Kucya mengetahui bahwa kebiasaan khalifah akan membaca surat pengaduan orang-orang terdzalimi setelah ia sampai di istananya. Setelah khalifah membaca surat itu, ia menentukan tanggal untuk bersama-sama dengan ‘Ali dan Hasan menyelesaikan permasalahan tersebut di istana.

        ‘Ali kucya pergi ke istana Khalifah, ketika di depan gerbang istana ia dijumpai penjaga gerbang dan berkata kepada ‘Ali Kucya: “Khalifah menyuruhmu hadir menghadapnya besok untuk memutuskan permasalahanmu”. Penjaga itu kemudian menanyakan alamat Hasan, kemudian ‘Ali Kucya memberikannya. Segera Ajudan itu mengirim surat kepada Hasan agar hadir pula di istana esok hari.

Bersambung
pantau terus blog kami
Salam, rukyatulislam.blospot.com